Poros Koalisi Pilpres 2024 Mulai Bermunculan, Pengamat Nilai Capres PKB Layak Maju

Spread the love

Jakarta – Menjelang pemilihan presiden dua tahun lagi, gelombang politik menuju demokrasi semakin mengemuka.

Salah satu indikasinya adalah pengumuman Aliansi Indonesia Bersatu yang dicanangkan pekan lalu oleh Golkar, PPP, dan PPP.
 situs slot gacor
Arif Noor Imam, Direktur Riset dan Konsultasi IndoStrategi, mengatakan pembentukan Aliansi Indonesia Bersatu merupakan upaya untuk meningkatkan posisi tawar trilateral yang terlibat.

Saya menyebut aliansi ini sebagai “aliansi sementara”, yang dapat berubah kapan saja. Tentu saja, motivasi selain meningkatkan tawar-menawar juga bisa diartikan sebagai memobilisasi atau memperlengkapi perahu calon presiden dan wakil presiden.”) malam.

Arif meyakini Pilpres 2024 mendatang akan diikuti hingga empat atau setidaknya tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Jika poros pertama aliansi adalah keadilan, maka akan dipimpin oleh Konfederasi Indonesia.

Sumbu kedua kemudian diharapkan bisa direduksi menjadi poros yang digagas Nasdim, yang berpeluang menarik Demokrat dan PKK.

Di sisi lain, poros ketiga diharapkan dipimpin oleh PDI-P yang akan bekerja sama dengan Gerindra.

“Saya yakin syarat administrasi akan terpenuhi jika PDI-P memiliki pasangan sendiri, meski posisi PDI-P tetap di koalisi. Arif mengatakan pasti akan ada persoalan jumlah PDI-P yang akan dicalonkan dan tantangan Arif mengatakan bahwa ke depan, “kecuali DPR akan membentuk koalisi A.” Arif menjelaskan

, PKK belum menunjukkan bias politik yang jelas hingga saat ini ketika ditanya tentang posisi Partai Kebangkitan Rakyat (PKB). PKB. Untuk bergabung dengan koalisi bentukan PDI-P dan Gerindra,

PKB saat ini cenderung beraliansi dengan PDI-P. Masalah kepribadian capres dan cawapres mau tidak mau akan datang dengan tekanan politik. “Ketiganya menginginkan kemajuan yang sama seperti Puan Maharani, Prabowo Subianto dan Muhaimin Iskandar,” jelas Arif.

Menurut survei yang dilakukan oleh IndoStrategi Research and Consulting pada Februari 2022, pasangan ideal calon presiden dan wakil presiden masa depan adalah campuran sipil-militer. Pasangan ini juga harus mendapat dukungan yang memadai di luar Jawa dan basis kolektif NU (Nahadis).

Tantangan yang dihadapi calon presiden dan wakil presiden adalah bagaimana memperluas dukungan mereka di berbagai tingkatan. Baik yang berasal dari luar Jawa maupun dari ceruk blok NU. Ini sangat penting karena calon saat ini tidak mengikuti kontes sehingga semua pasangan bisa bersaing untuk memilih di tempat pemungutan suara besar,” kata Arif.

Saat ditanya tentang calon potensial dari fan base NU, Arif mengutip hasil survei. Seperti yang dilakukan Ketua PBNU Muhammad Syafi terhadap mereka, Muhaimin Iskandar menang 42%.

Hal ini bisa menunjukkan bahwa Muhaimin Iskandar sebagai warga NU memiliki peluang dan kualifikasi untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Arif mengatakan, “Berbagai media sering mengatakan bahwa ada peluang yang jelas untuk promosi seorang imigran. Bahkan ada yang mengumumkan suami di mana Frabowo menang. Dengan dukungan partai politik, keduanya sangat mungkin untuk maju.” Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi

duet Prabowo Mohaimen adalah bagaimana mereka akan terpilih jika keduanya berpasangan.

“Ini adalah pekerjaan humas dan sukarelawan. Tetapi melihat popularitas mereka, Rabow dan Muhaimin dapat menggabungkan basis nasional dan agama (tradisional) mereka untuk menarik dukungan pemilih dalam dua bagian besar,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Yasmin Napper Dan Omar Daniel Deg-degan Tonton Film ‘Satria Dewa Gatot Kaca’ Di Premiere
Next post Bagaimana Asal-usul Cacar Monyet? Berikut Gejala Dan Penularan Monkeypox