Pimpinan MPR: Nilai Ke-Indonesiaan Harus Diterapkan Sebagai Cara Hidup Dalam Keseharian

Spread the love

Jakarta – Nilai-nilai Indonesia harus diwujudkan sebagai way of life.

Sebab, melalui nilai-nilai tersebut, Indonesia dapat mengatasi dan menghadapi segala krisis.

Demikian disampaikan Wakil Presiden MPR Indonesia Lestari Moerdijat pada Opening Ceremony Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan pada Rabu, 18 Agustus 2022 di Gedung DPR/MPR Jakarta, bersama MPR RI, Forum Diskusi 12 Denpasar dan Mixed Assessment. . situs judi terpercaya

Lestari Mordigat mengatakan, “Jika kita berbicara tentang nilai-nilai kebaikan negeri ini, kita bisa melihat sekilas ide-ide besar para founding fathers yang meletus dalam Gerakan Kebangkitan Bangsa 1908 dan Sumpah Pemuda 1928.”

Turut serta dalam diskusi bertema “Bangkitnya Nilai-Nilai Baik Indonesia: Harapan Kebangkitan Nasional”. Referensi dibuat untuk Richard Barrett (Barrett Academy for the Advancement of Human Values), Ole Silalai (20 ketua wanita) dan Yudi Latif MA, National Alliance Expert (PhD).

Selain itu, Yulio S. Bulo (Direktur Operasional Pertamina Foundation), Najila Chehab (Pendiri Sekolah Cikal dan Sekolah.mu), Tita Djumaryo (Pendiri Ganara Art – Mari Berbagi Seni dan Manajemen Koalisi Seni Indonesia) , Maria Chrisentia (Direktur SPAK) – Saya Perempuan Antikorupsi), Endang Suraningsih (Direktur BUMN Srikandi dan HR Food ID), Niko Chandra (Direktur Hubungan Kelembagaan, Mind ID), Politisi Partai NasDem, Profesor Bakhtiyar Ali dan dr. Muhammad Rahmat Yananda (Presiden Ikatan Alumni Universitas Indonesia) turut menjadi responden.

Menurut Lestari, negara perlu memahami apa yang harus dilakukan dan menggali nilai-nilainya.

Apalagi, Lili memberikan penghormatan kepada Lestari yang akrab, mengatakan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan penetrasi ideologis serta nilai-nilai yang mengurangi kekayaannya dengan skeptisisme dan pesimisme.

Anggota Dewan Tertinggi NasDem, sebagai entitas yang beragam, menilai Indonesia memiliki falsafah hidup kebangsaan yang bersumber dari Pancasila, UUD 1945 dan peraturan lainnya, menjamin keselamatan jiwa rakyat berdasarkan rasa persatuan, dan sejak digaungkan pada tahun 1908, nasionalisme.

Richard Barrett, pendiri dan direktur pelaksana Barrett Academy for the Advancement of Human Values, mengatakan bahwa kesejahteraan individu akan membentuk kesejahteraan suatu bangsa.

Menurut Richard, Indonesia memiliki modal sosial yang baik untuk berkembang melalui nilai-nilai buruh yang menderita.

Yudi Latif, pakar Aliansi Nasional, mengatakan bahwa meskipun banyak perubahan yang berdampak pada penurunan saat ini, kami memiliki banyak alasan untuk bangkit.

Menurut Yodi, dimulai dengan pengembangan nilai-nilai seperti kepribadian, dari mana kita mulai bangkit?

Dia menambahkan bahwa karakter jelai adalah campuran pikiran dengan nilai-nilai dan karakter budaya dengan kekuatan dan energi. Pengembangan bersama kedua nilai tersebut dapat membawa pada kemakmuran.

Uli Silalahi, Presiden Women20, percaya bahwa peran perempuan adalah kunci untuk menanamkan nilai-nilai baik dalam keluarga.

Olleh menambahkan bahwa skala dampak yang dimiliki perempuan berarti memberdayakan mereka untuk menanamkan nilai-nilai baik di lingkungan mereka.

Ole menjelaskan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci keberhasilan pembangunan di masa depan.
Ole mengatakan dunia digital dapat mempercepat pemahaman kita tentang nilai-nilai kita.

Ia pernah menjabat sebagai Direktur Operasi Pertamina Corporation di S. pada Juli lalu. Polo tertarik dengan pandangan Barrett bahwa pembangunan kesejahteraan sosial suatu bangsa harus dimulai dari keluarga.

Menurut Yulio, ketika proses penanaman nilai dalam rumah dimulai, orang tua harus memiliki tingkat intelektualitas yang baik atau berasal dari kalangan terpelajar.

Jul menilai era digital kemungkinan akan mengunci nilai-nilai yang disukai generasi muda karena pengaturan algoritme media sosial.

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih fokus untuk menanamkan nilai-nilai baru pada generasi muda secara lebih terukur.

Najila Chehab, pendiri Sikal School, menilai penetapan satu tujuan adalah salah paham, sehingga diperlukan sikap kritis dalam proses untuk memiliki kesamaan pemahaman tentang tujuan atau nilai yang ditetapkan bersama.

Najila percaya bahwa harus ada contoh kolektif, karena identifikasi nilai tidak terbatas pada anak-anak tertentu dan oleh karena itu penting untuk membangun kesuksesan kolektif.

“Mentransmisikan pengetahuan nilai dalam konteks yang lebih luas merupakan bagian penting dari sektor pendidikan,” kata Najila.

Yayasan Seni Ganara Tita Djumaryo percaya bahwa pendidikan seni dapat membekali generasi muda dengan keterampilan penting dan kohesi sosial.

Untuk itu, Tita menjelaskan bahwa ada penanaman nilai-nilai pada generasi muda melalui budaya.

“Ini akan memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk menyebarkan nilai-nilai kita, termasuk keragaman dan pemikiran kritis,” tambahnya. Saya berharap seni menjadi jalan bagi generasi muda untuk mengenal nilai-nilai Indonesia.

Maria Crescentia, direktur SPAK, mengatakan korupsi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan, nilai-nilai antikorupsi harus ditanamkan melalui permainan hiburan sejak dini.

Maria mengatakan melalui permainan ini, komunitasnya mengkomunikasikan nilai-nilai antikorupsi kepada keluarga dan komunitasnya.

Sebab, menurut Maria, korupsi merupakan awal dari pelanggaran nilai. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi kelompok dewasa awal tentang nilai-nilai antikorupsi.

Endang Suraningsih, Direktur Sumber Daya Manusia di Food Identifier, melihat keragaman sebagai nilai kami.

Menurut Endang, pelangi itu indah karena berwarna-warni. Perbedaan tidak boleh dibandingkan, mereka harus ditempatkan berdampingan untuk menunjukkan keindahannya.

Endang mengatakan, keragaman atau diversitas gender di lingkungan BUMN berdampak positif bagi perkembangan bisnis.

Menurut Niko Chandra, Mind ID, Head of Corporate Relations, pembahasan nilai erat kaitannya dengan evolusi bisnis.

Menurut Nico, perusahaan dengan nilai-nilai perusahaan lebih dari dua kali lipat kemungkinan untuk tumbuh sebagai perusahaan yang tidak menerapkan nilai-nilai tertentu.

Politisi Nasdeem Profesor Bakhtiar Ali percaya bahwa modal sosial kita harus terus berempati dengan cara kita berbicara lebih sopan dan membangun kerja sama dan keragaman.

Bakhtiar mengatakan tingginya tingkat kemarahan publik saat ini harus membuka ruang bagi publik untuk mengekspresikan pandangan mereka seluas-luasnya.

Muhammad Rahmat Yananda, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia, meyakini bahwa nilai keberagaman dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Apakah keragaman kita membawa hal baru atau kemajuan, itulah tantangannya,” kata Mohammed.

Kepala jurnalis Sur Hatbarat menekankan bahwa tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah mengakhiri kontradiksi yang ada dalam perangkap nilai-nilai kita.
“Bagaimana dengan negara dengan modal sosial yang begitu besar sehingga korupsi bisa terjadi?” kata Sauer.

Sauer menegaskan, untuk mengakhiri kondisi tersebut, perlu diwujudkan perluasan paradigma kolektif kita terhadap nilai-nilai keindonesiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Andri Agus Mulyana Bangga Bisa Raih Medali Emas
Next post Penyelundupan Sabu Dalam Sambal Tahu, Begini Tanggapan Kanwil Kementerian Hukum Dan HAM Kalbar