Dipanggil KPK, Boyamin Saiman Akui Kenal Bupati Nonaktif Banjarnegara Budhi Sarwono

Spread the love

Siaran Pers, Inspirasi Ryan Pratama

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Asosiasi Pemberantasan Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Sayman untuk mengusut tuntas dugaan pencucian uang (TPPU) budhi Sarwono bupati Banjarnegara nonaktif.

Boyamen Sayman mengaku mengenal Bodhi Sarono. bo slot gacor

Boyamin dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/4/2020) mengatakan, “Saya tahu teman dan bupati takhta Banjarnegara, Budi Saruno, ditangkap KPK.”

Boyamen Sayman mengaku mengenal Bodhi Sarono sejak 2010.

Dia awalnya menjadi perwakilan hukum dari perusahaan induk Bodhi.

“Namun setelah Bodhi Sarono menjadi bupati, saham perusahaan ditarik seluruhnya, orang tuanya memiliki saham tersebut, dan Bodhi Sarono tidak memiliki saham dan bukan direktur,” kata Boyamine.

Boyamine mengklaim hubungannya dengan Bodhi tidak ada hubungannya dengan kasus yang ditangani KPK.

Dia juga mengaku tidak mengetahui tindakan Bode yang diduga melanggar hukum.

“Sebagai seorang teman, saya khawatir tentang kasusnya, tetapi pengacaranya tidak,” kata Boyamine.

Boyamine juga mengaku sering menolak tawaran pekerjaan Bodhi.

Salah satunya pada 2018 ketika saya diminta menjadi sekretaris daerah panitia seleksi.

Boyamine berkata, “Saya tahu pasti tentang pekerjaan Bodhi Sarono sebagai bupati.

KPK disebut-sebut telah menetapkan Budhi Sarwono sebagai tersangka kasus pencucian uang.

Dalam hal TPPU Budhi diduga adanya upaya atau tindakan untuk menyembunyikan atau menyembunyikan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana korupsi.

Identifikasi Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan evolusi dari kasus korupsi terkait persewaan, pembelian atau persewaan kantor PUPR pemerintah di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 2017-2018.

KPK juga menyita aset Bodi senilai Rp 10 miliar. Harta tersebut diduga berasal dari pencucian uang yang dilakukan oleh Bodi dalam kasus sebelumnya.

Sebagai acuan, dalam kasus korupsi dan suap, KPK menetapkan Bodhi dan Kedi Effendi sebagai tersangka sebagai rekanan Bodhi. Keduanya telah didakwa dan sedang diadili di Pengadilan Tipikor Semarang.

Keduanya didakwa dengan dakwaan pertama berdasarkan Bagian 12(1) dari Joe Corruption Act. Pasal 55 Ayat 1, Pasal KUHP. Pasal 65 (1) KUHP dan Pasal 2 12b KUHP.

Pasal 55 Ayat 1, Pasal KUHP. Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Jaksa Agung menuduh Bodhi menerima suap sebesar Rs 18,7 miliar dan Rs 7,4 miliar untuk berbagai pekerjaan pada proyek infrastruktur lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post KAI: 289.500 Tiket Kereta Api Jarak Jauh Sudah Terjual Selama Periode Mudik Lebaran
Next post Tiga Pemuda Bergilir Rudapaksa Mahasiswi Di Kosan Kemayoran, Pelaku Dibekap, Dipukul Hingga Tewas